17 Oktober 2009

Satu Tahun Menulis Bersama


Satu tahun sudah KOPI Sastra mencoba terus berdiri di ramainya dunia sastra Indonesia. tepat 17 Oktober 2009 adalah ulang tahun pertama KOPI Sastra. Tak banyak memang yang dilakukan KOPI Sastra dalam belantika sastra Indonesia. Namun, terus mencoba serius dalam menggapai mimpi awal pendiriannya.

Di depan pintu gerbang gedung FKIP Universitas Pakuan Bogor tepat 17 Oktober 2008, lima mahasiswanya berkomitmen untuk mendirikan sebuah wadah bagi para penulis dalam bentuk komunitas. Mereka mempunyai misi mengembangkan dan merangsang keterampilan menulis para anggotanya. Dengan kegiatan diskusi dan sharing yang sering dilakukan, mereka saling belajar untuk bisa terus lebih baik dalam menulis karya sastra. Dibuatnya weblog sebgai sarana pempublikasian karya cukup merangsang para anggotanya untuk terus menulis karya sastra yang lebih baik.

Tak bisa dipungkiri, KOPI Sastra memang berkembang melalui media internet. Weblog yang dapat diakses bebas oleh siapa saja membuatnya semakin berkembang. Banyak penikmat karya yang mereka sajikan tertarik untuk bergabung. Kini, para Pohon Kopi--sebutan untuk anggota KOPI Sastra--sudah tersebar di berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Tercatat dalam data base Pohon Kopi, banyak anggota KOPI Sastra yang berasala dari Bogor, Jakarta, Bandung, Depok, Cianjur, Makassar, Ujungpandang, Pangkal Pinang, Palembang, Jambi, Aceh, Nusa Tenggara, hingga Irian.

Dalam wawancaranya dengan Jurnal Bogor, Presiden KOPI Sastra menegaskan bahwa KOPI Sastra berdiri karena ingin menjadi pabrik penulis yang berkualitas. Hal yang memang terus diusahakan KOPI Satra dalam membuktikan pernyataan tersebut. Sering dilakukannya diskusi dan sharing sebagai upaya peningkatan kualitas para Pohon Kopi.

Untuk mempermudah komunikasi antar anggota, KOPI Sastra embuat sebuah situs forum khusus para Pohon Kopi. Situs yang dinamakan KOPI Sastra Forum tersebut beralamatkan http://kopisastra.ning.com. Situs yang disediakan tersebut memang cukup efektif dalam komunikasi dan diskusi para Pohon Kopi yang berada di luar Bogor dengan para Pohon Kopi yang berada di Bogor.

Tidak hanya sebuah weblog dan situs forum, KOPI Sastra juga mencoba untuk bisa mempublikasikan karya anggotanya dengan media cetak. Diterbitkanlah Antologi Pohon Kopi 1 pada Februari 2009. Buku sederhana yang dicetak dengan sangat terbatas berisikan karya para Pohon Kopi.

Sebagai komunitas yang memprorioritaskan pempublikasian karya para anggotanya dan berkembang melalui sarana internet, KOPI Sastra pun terus berusaha mengembangkan salah satu jenis sastra modern, yaitu cyber sastra. Hadirnya KOPI Sastra Cyber, Makam Sastra Cetak, hingga situs-situs cyber sastra yang dibuat, tak lain hanya untuk turut meramaikan sastra Indonesia.

Di ulang tahun yang pertama KOPI Sastra kembali mencoba untuk terus berupaya mewarnai sastra Indonesia dengan menerbitkan Antologi Pohon Kopi 2. Bertemakan Hitam Putih Sastra Cyber, Antologi Pohon Kopi 2 diterbitkan secara berkala dalam bentuk dua buku dan satu CD. Dua buku tersebut berudul Hitam dan Putih, serta CD yang berisikan karya cyber sastra.

Antologi Pohon Kopi 2: Hitam diterbitkan tepat pada 17 Oktober 2009. Berisikan delapan belas karya para pohon Kopi, karya mereka dalam buku ini seperti kompak ingin menyatakan bahwa kegelapan tak selamanya menyeramkan. Masih banyak keindahan yang bisa ditemukan dari sisi gelap yang terkadang membutakan. Antologi Pohon Kopi 2: Hitam kembali dicetak secara sangat terbatas dan hanya diedarkan di Bogor.

Bertepatan dengan ulang tahunnya, KOPI Sastra memberikan sesuatu yang sangat istimewa. Antologi Pohon Kopi 1 yang telah diterbitkan secara terbatas, kini dibagikan secara gratis dalam bentuk ebook kepada para sahabat KOPI Sastra. Ebook Antologi Pohon Kopi 1 dapat diunduh di weblog resmi KOPI Sastra yang beralamatkan www.kopisastra.co.cc.

KOPI Sastra masih terus ingin berkembang dan berdiri kokoh di dalam dunia sastra Indonesia. Perekrutan Pohon Kopi masih terus dilakukan. Bagi yang tertarik bergabung dengan KOPI Sastra silakan kunjungi weblog resminya di www.kopisastra.co.cc.



Sanghitam

Nikmati kopi ini selengkapnya

09 Oktober 2009

Presiden itu Sudah Tua

Kala penanggalan Masehi merujuk pada 8-8-1988 di Meunasah Tuha taman itu kau pernah bergumam: tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh. Maka sejak itu mulailah kau kukagumi. Mulailah kau cecar aku dengan petuah-petuah syair berseling getah latah hikayat-hikayat mirismu. Mulailah kau jungkir-balikkan aku dalam kepungan kata dan cerita derita bangsa. Larutlah aku dalammu.

Dua tahun setelah larutku dalammu, engkau pun diangkat menjadi seorang presiden. Presiden Rex. Aku ingat hari itu, Jum’at, kala penanggalan Masehi merujuk pada 2-2-1990. Berita pengangkatanmu itu masih kukliping dari sebuah suratkabar bernama Kompas. Ada potretmu, anakmu dan anak tangga istanamu menyelip disela-sela pemberitaanmu di surat kabar itu. Garang sekali tampil rupamu di lembar itu, ketika itu.

Setelah itu, hari-hari kita terpelanting begitu cepat. Masih sempat sama-sama kita catat tentang Gurita yang tenggelam menjelang lebaran, kumuhnya perang dan kusutnya wajah-wajah pengungsi di tanah kelahiran, dan perginya kawan-kawan kita sepermainan di Meunasah Tuha taman itu secepat sekedip mata di pagi minggu akhir Desember itu. Begitu cepat waktu berlalu.

Sore ini, kala penanggalan Masehi merujuk pada 7-7-2007, setelah hampir 19 tahun berlalu, setelah sekian lama tak lagi kita singgahi Meunasah Tuha itu, langkah-rezeki-pertemuan-maut, mempertemukan kita kembali di kantin sebuah taman. Sore ini jadi sore bersejarah bagi kita, karena setelah sekian waktu berlalu kita kembali ke taman ini, yang menurutmu ini adalah kampung tua bagi kita.

“Sudah ada pergantian Presiden?” tanyaku.

“Belum.” jawabmu singkat.

“Tapi ‘kan situ sudah tua?”

“Tentu.”

“Kapan situ lengser?”

“Entah.”

“Lho?!”

“Ya.”

Sama-sama kita memandang Meunasah Tuha di sudut belakang taman ini. Sama-sama pula kita lihat masa sembilan belas tahun yang lalu, ketika kau, aku, Din, dan Mus menghabiskan hari-hari merangkai syair, membungkus cerita, mengandai-andai menjaga hingga mengubah peradaban. Sesekali masa dalam masa-masa itu ada pameran lukisan, sandiwara-sandiwara, baca-baca syair, main-main musik dan kemah-kemah seniman di taman ini. Ah, ringan sekali masa-masa itu. Sepertinya tanpa beban. Liar. Indah. Manis untuk dikenang-kenang.

Tetapi ketika kuurut-urut kembali penanggalan dan angka-angka di Tahun Masehi itu : 8-8-1988, 2-2-1990 dan 7-7-2007, aku menangkap firasat aneh tentangku dan tentangmu Presiden. Firasat yang sangat lumrah menurut banyak orang, tetapi sangat unik menurutku. Firasat angka, firasat waktu, firasat yang Aceh. Langkah, rezeki, pertemuan, maut. Ada apa ini? Kenapa bisa-bisanya seperti ini? Aku yakin ini bukan main-main dan sekedar reka-reka. Aku kelabakan, badan gemetar dan mendadak berkeringat, celingak-celinguk mataku liar menyisir seantero taman itu. Ah, firasat itu.

“Untuk pengobat penyakitku, selama ini tiap pagi aku minum air kencingku sendiri,” ujar Sang Presiden tiba-tiba.

Tak kuacuh ocehannya itu. Aku semakin terperosok dalam hitung-hitungan firasat. Aku melebur dan berpusar-pusar dalam angka-angka firasat : 8-8-1988, 2-2-1990, 7-7-2007. Apa ini? Ada apa ini? Mengapa ini? Siapa ini?!

“Tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh,” lirih dan malu-malu kembali kau bergumam.


Banda Aceh, 10 Juli 2007
* Presiden dalam cerpen ini adalah : Hasbi Burman (Seorang seniman Aceh), yang dijuluk Presiden Rex oleh Bre Redana (wartawan Kompas) yang beritanya dimuat di koran Kompas pada tanggal 2 Februari 1990.

Oleh
Saiful Bahri

Nikmati kopi ini selengkapnya

07 Oktober 2009

Kita Dalam Sejenak

Bukankah sejenak itu cukup untuk kita saling melepas penat?
Ketika dalam cakap kita terlampau larut di antara debat tak berkesudahan
pun wajah-wajah melaknat pada benci di ujung rimba yang menggugat

bukankah sejenak itu pas untuk kita sesaat lepas
sedikit melupa tentang rasa
ketika cinta terkalahkan ego
kita mengagungkan emosi bodoh
terkukuhlah kehancuran,
pun sendu sedan luka lirih berkumandang
tapi hati kita terlanjur bertopeng kemunafikan

kawan
sejenak kita redam
suara-suara mengatas-namakan cinta sudah padam
janji-janji terpatri tentang maghligai kasih pun kian suram
dan serpihan-serpihan batu mimpi pun kandas mendalam

kita tak lagi sepikiran,
apalagi sejalan?
kita tak lagi sehati,
mana mungkin saling mengerti?
kita tak lagi semimpi
tiada pasti kita kan berbagi!
kita tak lagi searah,
tak akan bisa kita selangkah!

duhai lelaki
kita butuh sejenak
cukup sejenak
ingat, sejenak!
tak lebih, tak kurang
meski kita tak tahu, seberapa lama sejenak itu hinggap
dan kita tak kan pernah tahu, kapankah sejenak itu berlalu

tak ada salahnya di antara kita sementara,

baiknya kita saling melupa
tanpa mematri luka
di atas tumpukan janji tentang cinta

baiknya kita menyendiri
tanpa menyulam mimpi
pada hamparan kasih membentang pelangi

baiknya kita memaafkan
tanpa dendam berdiri tegak pada dinding keangkuhan
diantara kesunyian malam, sudah selayaknya kita berpasrah dihadapan-Nya

kita adalah aku dan kamu




oleh
Mena Larassati

Nikmati kopi ini selengkapnya

30 September 2009

Coba Berbaring di Antara Dua Bunga

Coba kau lihat purnama. ingatlah akan sinarnya yang lembut
Atau pernah kah terpikir, Berbaring diantara bunga yang wangi
Coba lah berpikir!

“Aku rindu rona senyum indah walau aku berada dalam ketiadaan”

Tak pernah ada yang tau tentang apa yang harus kulakukan, karena aku tidak pernah tau apa yang mereka inginkan. Hanya kata hati yang berjelaga menerawang bagaikan aroma mewangi yang menusuk kedalam pori-pori rasa yang ada di seluruh jiwaku nan kosong

aku sendiri tidak pernah berpikir seberapa jauh akan melakukan apa yang kurasakan karena aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang benar-benar tumbuh dan berkembang dari dalam hati yang terdalam, yang ku tau hanyalah rasa yang menguasai apa yang aku pikirkan. Andai saja aku adalah penyusun waktu maka aku akan menuai kesenangan yang paling egois di dunia ini. Mengapa aku harus memikirkan sesuatu yang ada, yang ada sendiri tidak pernah tau bahwa aku ada, yang ada sendiri tidak peduli akan aku yang ada, entah kapan keadaan menoleh ke arahku. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang kulakukan karena rasa memberiku tawa dan senyum walaupun semua itu hanya semu tidak nyata datang dari keadaan yang benar-benar melihatku dalam keadaan yang seadanya dalam menunjuk bintang yang berkelip di langit impianku

Namun, aku harus memaksa keadaan untuk tahu bahwa aku tahu tentang yang ada

Terpikirkah itu, aku yakin tidak karena tidak mungkin ada yang biasa meraba hati dan pikiranku kecuali Tuhan. Bukan aku tidak mau berbagi dengan siapa pun, tetapi tidak banyak yang tau tentang apa yang aku mau dan inginkan . aku hanyalah deraian debu yang tertiup angin dalam tikaian hati yang tidak pernah usai. Kapan semua ini berakhir, kecuali mati? Namun mati bukanlah jawaban dan bukan akhir dari semuanya kematian hanyalah kesimpulan dari episode yang terus berjalan hingga kita sendiri tidak bisa melihat episode berikutnya karena skenario itu tidak dapat kita gubah

Aku sendiri tidak pernah bosan mencari setitik warna di kubangan hitam nan kelam bagiku di sanalah warna sejati dan di sanalah aku bisa melihat bayangan, bayangan yang setia menemaniku dalam posisi apapun dan dalam bentuk apa pun

Sebatang rokok tidak bisa mengubah keadaan. Aku sendiri malas membahas keadaan, terlalu muak dan membosankan sebab tidak ada ujung, keadaan hanya bisa diubah lewat keadaan akankah ada yang bisa menetapkan keadaan.

sering kumenatap langit yang penuh dengan uraian tangis, coba kurasakan, dan sering juga aku menatap purnama yang menerangi malam, coba ku nikmati. Tapi hanyalah khayal yang datang

aku pesimis, mungkin aku harus mencari dimana keadaan yang benar-benar tahu bahwa aku ada. Tetapi timbul pertanyaan. "dimana?"

Ya, dimana?

Belum kutemukan jawaban, karena terlalu berlebihan jika aku ingin sesuatu yang lebih tetapi aku sendiri tidak berusaha lebih.

Terkadang aku sering melihat kilauan yang membuat aku merasakan nyaman berada di dalamnya tetapi aku jarang untuk menyadari bahwa seluruh kulitku melepuh terkoyak dalam tawa, begini yang terjadi suatu ketika aku melihat sebuah lorong kecil dan gelap namun ada kilauan yang hanya setitik, aku terpikir itu hanyalah pantulan sinar mentari yang menembus rongga tanah. Setelah kupikir lagi, tidak mungkin. Aku pun memasuki lorong itu, pengap penuh dengan kesesakan yang mencakar setiap relung logikaku. Ingin kumenyerah dan kembali kebelakang, tetapi aku tidak ingin hanya menikmati rasa sesak tanpa aku tahu apa sinar itu. Aku terus bergerak dengan segala daya, tidak lagi ada rasa di sekujur tubuhku entah luka, entah tersobek tidak kurasakan yang kutahu hanyalah rasa lembut sinar. Dengan susah payah akhirnya aku pun dapat memeluk sinar itu, ketika tubuhku terlihat, aku hanya bisa menatap kaku. kulitku terkelupas itu pun di bagian badanku. tanganku penuh dengan sayatan tajam, yang lebih membuatku miris kakiku entah dimana”

Ludahan itu ku unggap hanyalah serentetan peluru-peluru pacu yang dapat membuat ku maju dan terus menatap kedepan


Andai suatu ketika engkau singkah di teras kediamanku, kumohon untuk tinggal walau sejenak, karena aku tidak pernah menyediakan sepotong roti dan segelas sirup nan segar tetapi aku hanya menyediakan seteguk air tawar. Namun, setelah engkau pergi, engkau akan kembali. Tetapi engkau tidak akan pernah menemukan jalan menuju kediamanku



oleh
HenQ

Nikmati kopi ini selengkapnya

06 September 2009

Fajar Itu

Fajar itu masih menyapaku halus
Jendela mata baru terbuka
Menyongsong pagi penuh optimis

Fajar itu memecah tangis
Di gendang telingaku
Merintih
Bahkan seluruh dunia

Fajar itu menyisakan sendu
Namun satu keajaiban
Terbelalak di kelopak mataku

Masjid itu
Dia tersenyum
Menyapa tangis warga
Menenangkan gundah jiwa
Dengan gemuruh tasbih
Mengajak kita semua
Tuk lebih mendekat
Pada Sang Serba Bisa


Oleh
Areev Wahyu


Nikmati kopi ini selengkapnya

05 September 2009

Petuah Bijana

orang-orang bijak mengatakan
tak ada yang salah dengan kebodohan
tetapi meniti karir berdasarkan kebodohan

adalah ketololan
sebagian penguasa mengakumulasikan dan
mengkombinasikan kebodohan dengan pendi-
dikan
tetapi kebodohan bukan kebahagiaan, dia
adalah penderitaan, tragedi, kemiskinan, dan
penyakit.
Sedikit pengetahuan sangat berbahaya
Banyak kebodohan menimbulkan kepicikan,
ketakutan, dogmatisme, egoisme dan kecurigaan
Konon, kebijaksanaan hidup di era informasi
dan teknologi, di mana jumlah pengetahuan
meningkat dua kali lipat per tahun,
tidak sulit untuk menghilangkan kebodohan.
Menyedihkan bila kita belajar membaca, menulis,
Berhitung, dan hakekat pendidikan, intelektual,
tetapi tidak mengerti akan keluhuran budi
dan martabat manusia.

Kerobokan, 3 Maret 2009.



oleh
W.B. Padmawiryanta

Nikmati kopi ini selengkapnya

24 Agustus 2009

Cinta Bukan Nafsu

Waktu menunjukkan pukul 02;00 pagi, tapi aku masih belum tidur. Masih di atas kasur dalam kamarku yang sumpek. Mungkin bantal sudah bosan dengan sikapku yang dari sore tadi membalik-balikkannya. Aku dihantam ribuan gelisah. Baru sekarang aku lebih bisa mngendalikan diri.

Aku menggenggam hand phone dengan penuh kebingungan. Dalam pikiranku bertarung rasa ingin menelepon dengan sms. Jika aku menelepon, nyaliku mengecil. Karena aku tak berani mengatakannya secara langsung. Tapi jika aku kirim sms, mungkin aku lebih berani. Tapi rasanya kurang menunjukkan bahwa aku seorang lelaki.
Kebingungan inilah yang membuatku gelisah sedari sore tadi. Aku tak pernah punya perasaan seperti ini sebelumnya. Aku diam terpaku memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan. Sekitar lima belas menit pikiranku hilang dari kepalaku. Tiba-tiba ada suara mengagetkanku. Mengembalikan pikiranku ke kepalaku.

“Hey! Sedang apa kau ini? Kau sungguh bodoh.”

“Suara siapa itu?” tanyaku terkaget sambil melihat ke semua sudut kamar.

“Benar-benar kau bodoh. Kau tidak tahu siapa aku?” katanya dengan nada sedikit membentak.

“Hey, kau! Jangan jadi pengecut! Tunjukkan siapa dirimu!” sentakku tak mau kalah.

“Bukankah yang pengecut itu kamu?” katanya sinis.

“Apa maksudmu?”

“He...! He..! He...! Kau itu pengecut tak punya nyali untuk ungkapkan persaanmu pada wanita itu.” jelasnya sambil menertawakanku.

“Hey! Kau ini siapa?”

“Aku ini cinta. Aku ada di dirimu.”

“Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau mengatakan aku bodoh?”

“Aku datang untuk memohon padamu. Dan karena itulah kenapa aku anggap kau bodoh.”

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin kau mengenalkanku pada wanita itu. Dan betapa bodohnya kau hingga aku memohon padamu untuk dikenalkan padannya.”

Aku terdiam, aku semakin bingung dengan adanya dia. Tapi sebenarnya memang itulah yang aku ingin lakukan. Mengenalkan cintaku pada wanita itu.

“Lalu bagaimana caranya?” tanyaku sedikit menuntut.

“Itu juga kenapa aku bilang kau bodoh. Kau kan sedang pegang hand phone, telepon saja dia!”

“Ini sudah pagi. Lagi pula aku takut. Yang pasti aku tidak berani mengungkapkan perasaanku langsung padanya.”

“Baiklah! Kau kan bisa kirim dia sms?”

“Apa yang harus aku tuliskan padanya?”

“Aku bukan lahir dari jari-jemari, bukan pula datang dari mata, bukan muncul dari mulut, apa lagi menetas dari pikian. Tapi aku tercipta dari perasaan. Perasaan itu terletak di hati. Kau tak perlu berpikir apa yang harus kau katakan padanya. Perkataan itu akan keluar dengan sendirinya dari hatimu.”

Aku kembali terdiam. Mencoba memahami perkataannya. Aku mulai mengerti apa yang dimaksudkannya. Lalu aku mantapkan hati untuk mencoba menuliskan perasaanku pada wanita itu melalui sms.

“Baiklah, aku akan mencoba menuliskannya.?

“Itulah yang aku harapkan. Silakan kau meneruskan apa yang hendak kau lakukan! Aku akan pergi sejenak, nanti aku akan kembali lagi setelah kau menyelesaikannya.”

“Tunggu! Tunggu! Bagaimana aku bisa menuliskan semua perasaanku jika kau keluar dari hatiku?”

Cinta terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “He...! He...! iya ya? Ya sudah, aku kembali ke dalam hatimu. Tapi kau harus segera menyelesaikannya!”

Setelah cinta masuk kembali dalam hatiku, aku langsung mengambil hand phoneku dan mencoba menuliskan semua perasaan yang ada dalam hatiku. Tak kusangka ternyata mengungkapkan perasaan bisa semudah ini. Tanganku terus saja menuliskan sms dengan sendirinya tanpa didikte pikiranku.

Tak kurasa kantukku mulai memberat, mataku semakin sayu. Tapi tanganku terus saja menuliskan kata-kata yang tanpa aku sadari sudah menghabiskan lebih dari 600 karakter. Kelopak mataku perlahan-lahan menutupi seluruh bagian mataku. Tak terasa aku tertidur.

Pukul 7;30 pagi aku dibangunkan oleh suara berisik ibu yang memang sengaja membangunkanku.

“Kamu itu kayak Singa Masai. Tidur dua puluh empat jam sehari. Ayo bangun! Kamu kan mesti kuliah.”

“Uh, Ibu ini kok ngebandingin anaknya sendiri sama hewan sih? Kayak iklan toko makanan luar negeri saja?” lirihku pelan.

“Habisnya kamu itu kerjanya tidur melulu.” jawab ibu seakan mendengar perkataanku.

“Waduh! Hand phoneku mana?” Tiba-tiba aku teringat tulisanku yang semalam belum sempat aku baca. Aku mencari hand phoneku ke sekeliling kamar. Sementara itu ibu keluar.

“Nah, akhirnya ketemu juga!” aku merasa lega karena hand phoneku ketemu di bawah selimut. Lalu aku lihat pesan yang aku tuliskan semalam yang ternyata belum aku kirimkan. Aku membacanya kata demi kata. Betapa kagetnya aku setelah membaca pesan yang aku tuliskan.


Bidadariku
Aku bingung harus dari mana memulai perkataan ini.
Yang pasti perasaanku ingin memilikimu.
Keindahanmu membutakan mata hatiku.
Di mataku engkau bagai bidadari yang sedang mandi di sungai-sungai surga.
Betapa tak ingin berkedipnya mataku melihat tubuhmu tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhmu.
Keindahan tubuhmu sungguh membuat keinginanku memilikimu.


“Apa-apaan ini?!” Bentakku keras. Entah kepada siapa aku membentak. Dalam pikiranku saat itu hanya ada cinta yang semalam telah mendiktekan tanganku menuliskan sms ini.

“Cinta! Cinta! Di mana kamu?” tanyaku dengan nada membentak.

“Ada apa? Aku di sini.” Jawab cinta seperti ketakutan.

“Coba kau baca sms ini! Apa-apaan ini?”

Cinta hanya terdiam. Aku semakin kesal dengan sikapnya. “ Hey! Jawab pertanyaanku! Kau kan yang memerintahkan tanganku menulis ini?” Bentakku.

“Sungguh! Sungguh bukan aku yang memerintahkan tanganmu menuliskan itu.” Bela cinta ketakutan.

“Bukankah semalam kau yang ada di dalam hatiku?”

“Iya. Semalam saat aku masuk ke dalam hatimu di sana sudah ada nafsu. Aku berusaha terus masuk. Tapi dia terus melawanku. Aku tak sanggup melawannya. Karena dia lebih besar dari aku. Sungguh aku tak bisa melawannya.”

“Tapi aku tak sedikit pun merasa memiliki nafsu. Apa lagi untuk aku berikan pada wanita itu. Yang ingin aku berikan itu kamu.”

“Aku tahu. Tapi dia lebih menguasai hatimu.”

“Bukankah dia ada karena memang berasal darimu? Kenapa kau tak bisa lebih menguasai dia?”

“Kau jangan berperasangka begitu! Aku tak akan pernah menyatu dengan nafsu dan nafsu bukan berasal dari aku. Nafsu ada bukan karena aku. Jadi aku tak bisa menguasai dia. Hatimu sendirilah yang seharusnya menguasai dia. Hatimu yang harus memilih siapa yang lebih luas ditempatkan di dalamnya. Ingat! Hatimu adalah tempat perasaan. Jika tempat itu dikusai nafsu berarti perasaanmu kepada dia tak lain adalah nafsu.”

Aku hanya bisa terdiam. Entah mengapa aku bisa menuliskan seperti itu. Mungkin benar apa yang dikatakan cinta. Aku menjadi benci kepada diriku sendiri yang belum bisa menguasai nafsu. Seharusnya aku lebih bisa membesarkan rasa cinta, bukan nafsu.

Dengan rasa benci aku menghapus sms itu. Aku merasa harus menguasai nafsuku sebelum mengenalkan cinta pada wanita manapun.



Gunungputri, 27 Maret 2008
00;30


oleh
wahyudimalamhari

Nikmati kopi ini selengkapnya
Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra